Jumat, 23 September 2022

Dalil Merayakan Maulid Nabi SAW



INILAH DALIL KAMI MERAYAKAN MAULID NABI SAAW

Dari Risalah Khusus tentang Maulid Nabi SAAW
Karya Prof. As-Sayyid Al-Habib Muhammad bin `Alwi Al-Malikiy rhm.

1. Rasulullah SAAW memperingati Hari Maulidnya dengan jalan puasa
setiap hari Senin sebagai tanda syukur kepada Allah SWT.

Dalam Shahih Muslim rhm diriwayatkan hadits Abi Qutadah ra. Bahwasanya
Rasulullah SAAW pernah ditanya tentang puasa hari senin, beliau SAAW
menjawab : "Dzalika yaumun wulidtu fiihi, wa yaumun bu itstu fiihi, aw
unzila `alayya fiihi."

2. Perayaan Maulid Nabi SAAW adalah ungkapan kegembiraan dan
kebahagiaan dengan keberadaan Rasulullah SAAW.

Dalam Surah Yunus : 58, Allah SWT memerintahkan kita untuk senang dan
gembira dengan rahmatNya SWT : "Qul bifadhlillahi wa birohmatihi
fabidzalika falyafrohuu.", dan Rasulullah SAAW merupakan rahmat besar
dari Allah SWT untuk kita bahkan untuk semesta alam, firmanNya dalam
Surah Al Anbiya' : 107 : "Wa maa arsalnaka illa rohmatan lil `alamiin."

3. Kegembiraan dengan kelahiran Rasulullah SAAW memiliki manfaat
khusus bagi setiap muslim.

Dalam Shahih Buhkari rhm diceritakan sebuah kisah mimpi `Abbas ra,
paman Rasulullah SAAW, tentang peringanan azab atas Abu Lahab setiap
hari Senin, karena dia di masa hidupnya pernah gembira menyambut
kelahiran keponakannya, Muhammad ibni Abdillah, dengan memerdekakan
budaknya bernama Tsuwaibah.

Karenanya Al Hafidz Syamsuddin Muhammad bin Nashiruddin Ad Dimsyqi rhm
membuat sya'ir :

Idzaa kaa na Hadzaa kaafiron jaa `a dzammuhu

Bi tabbat yadaahu fil jahiimi mukholladaa

Ataa annahu fii yaumil itsnaini daa `iman

Yukhoffafu `anhu lissuruuri bi `ahmadaa

Famadzh dzhonnu bil `abdil ladzii kaa na `umruhu

Bi `ahmada masruuron wa maa ta muwahhadaa

4. Perayaan Maulid Nabi SAAW adalah Media Da'wah untuk memaparkan
kembali sejarah kehidupan dan perjuangan Rasulullah SAAW, mendorong
umat Islam agar Cinta Rasulullah SAAW dan mau mensuritauladaninya,
sekaligus membiasakan umat bershalawat untuk Rasulullah SAAW, sehingga
menjadi peneguh hati kaum muslimin.

Dalam Surah Huud : 120, Allah SWT memberitakan dan menjelaskan
bahwasanya kisah para Rasul dalam Al Qur'an untuk meneguhkan hati
Rasulullah SAAW. FirmanNya SWT : "Wa kulla naqushshu `alaika min
`anbiyaa'ir rusuli maa nutsabbitu bihi fu'aa daka."

5. Perayaan Maulid Nabi SAAW adalah Upaya menghidupkan Napak
Tilas Pejuangan Rasulullah SAAW.

Menghidupkan kenangan perjuangan orang-orang shaleh adalah sesuatu
yang disyariatkan dalam Islam. Lihatlah berbagai perbuatan ibadah
dalam Manasik Haji merupakan napak tilas dari berbagai peristiwa
religius bersejarah dalam kehidupan Nabi Ibrahim kholilullah dan
Sayyidati Hajar as serta putra mereka Nabi Isma'il as.

6. Rasulullah SAAW menyukai dan memuji orang lain yang mencintai
dan memujinya.

Rasulullah SAAW memuji dan membalas dengan berbagai kebaikan hubungan
dengan para penyair dizamannya yang membuat sya'ir-sya'ir yang memuji
kehidupan dan perjuangan Rasulullah SAAW, seperti Hasan bin Tsabit ra.
Maka bisa dipastikan bahwasanya Rasulullah SAAW akan sangat ridho' dan
menyukai mereka yang menghimpun dan menyebarluaskan sejarah kehidupan
dan perjuangan Rasulullah SAAW, seperti yang dilakukan para `Ulama
melalui kitab-kitab Maulid yang dibaca saat perayaan Maulid Nabi SAAW.

7. Rasulullah SAAW memiliki perhatian dan kepedulian terhadap
hubungan antara tempat dengan peristiwa religius bersejarah, bahkan
beliau ikut membesarkannya.

Dalam hadits Syaddaad bin `Aus ra yang diriwayatkan oleh Al Bazzaar,
Abu Ya'laa, dan Ath Thabrani, bahwasanya tatkala Rasulullah SAAW Isra'
dan Mi'raj, beliau diajak mampir oleh Jibril as ke Baitul Lahm dan
Shalat dua raka'at disana, lalu Jibril as bertanya apakah Rasulullah
SAAW tahu tempat apa itu, beliaupun menjawab tidak tahu, maka Jibril
as memberitahukannya : "Shollaita baitul lahmin haytsu wulida `isaa."

8. Rasulullah SAAW memiliki perhatian dan kepedulian terhadap
hubungan antara zaman dengan peristiwa religius bersejarah, bahkan
beliau ikut membesarkannya.

Dalam Shahih Bukhari dan Muslim diceritakan bahwa tatkala Rasulullah
SAAW mendapatkan kaum Yahudi berpuasa dan bergembira pada Hari `Asyura
(10 Muharram) untuk merayakan kemenangan Nabi Musa as atas Fir'aun,
maka beliau bersabda : "Nahnu aulaa bimuusaa minkum", beliau pun
berpuasa di hari itu dan mengenjurkan umatnya untuk berpuasa `Asyura.

Selain itu, masih ada hadits lain dimana Rasullullah SAW menyebutkan
keistimewaan Hari Jum'at sebagai hari penciptaan Nabi Adam as dan juga
hari kelahiran para Nabi dan Rasul selain beliau SAAW.

Semua itu sesuai dengan tuntunan Al Qur'an yang mengkhabarkan tentang
limpahan kesejahteraan bagi hari kelahiran para Nabi. Dalam Surah
Maryam : 15 tentang Nabi Yahya as : "Wa salaamun `alaihi yauma wulida
wa yauma yamuutu wa yauma yub'atsu hayyan," dan 33 tentang Nabi `Isa
as : "Was salaamu `alayya yauma wulidtu wa yauma amuutu wa yauma
ub'atsu hayyaa."

9. Para `Ulama terkemuka yang terkenal istiqomah dari zaman ke
zaman dan dari berbagai madzhab serta dari berbagai negeri telah
menjadikan Peringatan Maulid Nabi SAAW sebagai sesuatu yang Mustahsan
yaitu suatu perbuatan yang dipandang baik.

Nabi SAAW menjamin umatnya tidak akan sepakat dalam kesesatan: "Lan
tajtami'a ummatiy `aladh dhoolaa lati."

Apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin, apalagi para `Ulamanya
maka ia baik : "Hasanuhu hasan wa qobihuhu qobih." Dalam Musnad Ahmad
sebuah hadits mauquf dari Abdullah bin Mas'ud ra berbunyi : "Maa
roohul muslimuuna hasanan fahuwa `indallaahi hasanun, wa maa roohul
muslimuuna qobiihan fahuwa `indallaahi qobiihun."

Sedang dalam Shahih Muslim ada sebuah hadits lagi yang mempertegas
permasalahan : "Man sanna fil islaami sunnatan hasanatan falahu
ajruhaa, wa ajru man `amila biha min ba'dihi, man ghoiri ay yanqusho
min ujuu rihim syai'un."


10. peringatan Maulid Nabi SAAW secara eksplisit dalam bentuk
perayaan besar-besaran, memang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah
SAW, tapi bukan berarti sebagai Bid'ah dholalah melainkan sebagai
Bid'ah Hasanah.

Para Sahabat ra pernah melakukan apa yang tidak pernah dilakukan
Rasulullah SAAW :

a. Abu Bakar ra dan `Umar ra menghimpun Al Qur'an dan membuat
mushafnya.

b. `Utsman ra memperbanyak mushaf Al Qur'an dan mengirimnya ke
berbagai wilayah.

c. `Umar ra menghimpun kaum muslimin di bawah satu Imam dalam
Shalat Tarawih, dan beliau berkata : "Ni'amatil bid'ati hadzihi"

d. dll.

Imam Syafi'i ra sebagai salah seorang `Ulama Salaf terkemuka menyatakan :

"Maa ahdatsa wa khoolafa kitaaban aw sunnatan aw ijmaa'an aw atsaron
fahuwal bid'atudh dhoollah, wa maa ahdatsa minal khoiri wa lam
yukhoolifu syai'an min dzalik, fahuwal mahmuud"

Karenanya, para `ulama Ahlus Sunnah wal Jama'ah sepakat mengikat kata
Bid'ah dalam hadits : "Kullu bid'atin dholaalatun" dengan ikatan
taqdiirul kalam "Bid'atun sayyi'atun,"

Wallahu A'lam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

10 Keutamaan Membaca Al-Qur'an

Berikut ini merupakan 10 keutamaan membaca Al-Quran: 1. Menjadi keluarga Allah SWT Rasulullah shallallahu alaihi wasallam (SAW) bersabda:  “...